Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CERITA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 Juli 2012

Inilah salah satu gambaran mengapa Islam memperlakukan perempuan begitu istimewa


Inilah salah satu gambaran mengapa Islam memperlakukan perempuan begitu istimewa

Si inggris bertanya, "Kenapa perempuan Islam menutupi tubuh dan rambut mereka?"

Syaikh tersenyum dan punya 2 permen, ia membuka yang pertama terus yang satu lagi tertutup. dia melemparkan keduanya kelantai yang kotor.

Syaikh bertanya: " Jika saya meminta anda untuk mengambil satu permen, mana yang anda pilih?"

Si inggris menjawab: "Yang tertutup.."

Syeikh berkata: " Itulah cara kami memperlakukan dan melihat perempuan kami"


Inilah alasan kenapa perempuan Islam tidak boleh berjabat tangan dengan pria

Lelaki inggris bertanya: "Kenapa dalam Islam wanita tdk boleh jabat tangan dengan pria?"

Syaikh menjawab: "Bisakah kamu berjabat tangan dengan ratu elizabeth?
...
Lelaki inggris menjawab: "oh tentu tidak bisa! cuma orang2 tertentu saja yg bisa berjabat tangan dengan ratu."

Syaikh tersenyum & berkata:" Wanita2 kami(Kaum muslimin) adalah para ratu, & ratu tidak boleh berjabat tangan dengan pria sembarangan (yg bukan mahramnya")
 
 

Inspirasi: AsepSyamsudin Albukhori

 

Rabu, 06 Juni 2012

BaraBe of Psychology

BaraBe of Psychology
 
    Barabe merupakan nama yang dilabelkan pada sebuah kelas B angkatan 2011 Fakultas Psikologi  Universitas islan Negeri Sunan Gunung Djati Bandung. Yang berdiri sejak tahun 2011, semenjak pemilihan kelas di awal perkuliahan. Barabe merupakan singkatan Barudak Kelas Be. Dalam bahasa sunda itu sendiri "Barabe" berarti riweuh, rame, garandeng. Sama halnya dengan anak-anak kelas B   yang selalu rame, berisik, kocak, bikin kampus bergoyang dengan teriakan dan candaan, yang tak kalah penting narsis akut dan gila akan kamera. Tapi semua itu tak mengganggu kualitas belajar dan kegiatan perkuliahan, justru dengan itu kita malah jadi semangat untuk belajar. 
    Barabe untuk kebanyakan orang, mungkin hanya sebuah singkatan untuk sebuah kelas. Tapi, bagi kami barabe bukan hanya teman di dalam kelas, melainkan sebuah keluarga tanpa ikatan darah yang tak menghioraukan ras, suku, dan pulau. 
      Mari kita berkenalan lebih jauh...

Barisan atas dari kiri ke kanan
1. Gamal Maulana, S. Psi
2. Herdi Syahrudin, S. Psi
3. Lukman hakim, S. Psi
4. Ipan Gunawan, S. Psi
5. Faisal M. Faris, S. Psi
6. Lubi Nurzaman, S. Psi
7. M. Jiahaan. N, S. Psi
8. Indra Gunawan, S. Psi

Barisan tengah dari kiri ke kanan
9. Fajar Dani, S. Psi
10. Jayadi S. Pura, S. Psi
11. Listia Fitriani, S. Psi
12. Khoirini Azdawiyah, S. Psi
13. Indri Awaliyah S, S. Psi
14. Ilma Auliya N, S. Psi
15. Ismi Meila S, S. Psi
16. Kirani Anjasmara, S. Psi
17. Febria Rida, S. Psi
18. Galih Rizki, S. Psi
19. Irfan Nurwardana, S. Psi

Barisan bawah dari kiri ke kanan
20. Kurnia Erliani, S. Psi
21. Gina St Shofura, S. Psi
22. Hana Hanifa F, S. Psi
23. Fitri Nurainunnisa, S. Psi
24. Khuraini Bira, S. Psi
25. Fitri Hanifa, S. Psi
26. L. Santi Rosmiyati, S. Psi
27. Gemi Widy A, S. Psi
28. Ia St Sholihat, S. Psi
29. Fitriani Nurhidayah, S. Psi
30. Iin Nurdiansih, S. Psi
   
     Insya alloh kita lulus bareng-bareng, Amiiinnn


                                                  Motto BaraBe
"Asup bareng-bareng, kaluar ge wajib bareng-bareng"

Selasa, 29 Mei 2012

CINTA TERHALANG KETIDAKBERANIAN


CINTA TERHALANG KETIDAKBERANIAN



     Cinta, apa sih cinta? perlu ya sebuah Cinta? Ok, mari kita coba bahas satu persatu. Cinta adalah sebuah emosi dari kasih sayang yang kuat dan rasa ketertarikan pribadi. Dalam konteks filosofi cinta merupakan sifat baik yang mewarisi semua kebaikan, peraaan belas kasih, dan kasih sayang. Cinta dalam zaman sekarang sudah menjadi suatu kebutuhan, dimana jika tidak terpenuhi akan berimbas pada kehidupan yang lainnya khususnya hati dan jiwa. Kadang yang namanya cinta membuat orang lupa akan dirinya sendiri, lupa sekolah, lupa makan, lupa mandi, lupa segalanya, sampai-sampai dia tak ingat akan dirinya sendiri. Karena cinta orang akan bahagia, karena cinta pula orang akan lebih sengsara. Memang cinta sulit untuk dipahami.
    Perlu gak sih cinta? Ok, kalau dilihat dari sudut pandat lain cinta itu jelas perlu, karena disamping efek negtif ternyata masih banyak efek fositif yang dihasilkan ika kita tepat mempergunakan yang namanya cinta. Hidup kita lebih semangat, lebih percaya diri, membuat kita menjadi orang yang paling sempurna. Jika dalam batas yang wajar. Tetapi ingat di atas cinta ada kasih sayang seperti peptah "Lebih baik orang yang mencintai, lebh baik orang yang menyayangi" karena kenapa? orang yang mencntai belum tentu menyayangi, sedangkan orang yang menyayangi tentu akan mencintai. Menyayangi itu lebih tulus, beda halnya mencintai ketika dia a bosan atau tersakiti cinta akan pergi degan sendirinya tanpa melihat situasi dan keadaan. Yaah..... namanya juga mencintai makhlik (seseorang) pasti akan ada akhirnya. Seperti pepatah mengatakan "Jika kamu mencintaiku, maka cintailah tuhanmu. Karena aku akan mati, sedangkan Tuhanmu tak akan pernah mati".

KONFLIK CINTA
     Ketika virus cinta menyerang seseorang mau gak mau pasti orang itu akan merasakannya. Misalnya seorang perempuan, ketika menyukai lawan jenis dia akan terus mengungkapkan melaui tingkahlaku, mendekati dan mencari perhatian, dengan cara apapun. Namun bedanya, seseorang ada yang berani mengungkapkan secara blak-blakan dan yang tak berani untuk mengungkapkan mekipun rasa sukanya itu besar. 
    Orang yang berani akan cenderung agresif tanpa melihat keadaan disekitarnya, tak peduli dengan orang lain meski mereka terus -menerus membicarakannya, tanpa ada rasa malu, tanpa menyerah, karen yang dia pikirkan hanya bagaimana cara mendapatkan perhatiannya. Beda dengan tak berani, dia akan cenderung merasa minder karena dia merasa rendah, tidak pantas untuk mendapatkannya, dan cenderung akan terus tak berdaya hanya dapat memandang dari jauh, hanya terus melamunkannya, hanya terdiam ketika ada orang lain yang mendekatinya, hanya terus berharap dan berharap tanda ada keberanian. Dan hanya terus berkhayal, menyimpan potonya, menulis diary, dan terus menumpuk-numpuk unek-unek dalam dirinya. Kalau begitu bagaimana caranya dia akan tahu bahwa kamu menyukainya, sementara kamu terus berharaf tanpa tindakan. Setidaknya, cobalah kamu sedikit mengumpulkan keberanianmu untuk sekedar menunjukan rasa sukamu padanya, mungkin dengan begitu dia akan sedikit lebih mengerti dan mengetahui maksudmu, meskipun kamu dibayang-bayangi oleh sosok perempuan agresif tadi.
     Tapi percayalah, kebanyakan laki-laki tidak menyukai perempuan yang agresif. Dan percayalah cinta sejati dan tulus akan mendapat yang lebih tulus. Ketika kamu memikirkannya pastilah dia akan memikirkanmu. Dan ingatlah "Tempat kembali orang yang kita sayangi, akan kembali kepada siapa orang yang selalu memikirkannya" (Naruto).



Puisi wanita yang tak punya keberanian

Aku mencintaimu apa adanya
Aku sadar aku tak sempurna
 tetapi kau menyempurnakannku dengan cintamu
Jika mencintaimu dimulai dengan senyuman
Maka kuakhiri dengan senyuman
Tak perlu kamu mencari tulng rusukku
Aku disini yang menjadi tulang rusukmu
Lelah ini hanyalah sebuah gambaran
Dari sebuah perjuangan, untukku?
Aku gak akan mungkin bisa membaca akal pikiranmu,
Tapi yang bisa kulakukkan, mencintaimu segenap hatiku.
Ketika kau mencintainya, dan kau hanya mendapat hujan,
Cintailah aku sebagai pelangimu.




   

    
    

Rabu, 23 Mei 2012

ORANG TUAKU PAHLAWANKU



ORANG TUAKU PAHLAWANKU


Apakah saudara pernah merasakan arti penting do’a orang tua?
        Do’a orang tua bisa dibilang suatu elemen terpenting dalam perjalanan karier anaknya. Bagaimana tidak do’a orang tua terus mengalir setiap hari, setiap jam, setiap menit, setiap detik, bahkan setiap beliau bernafas pasti terselip do’a untuk kita selaku anaknya. Do’a nya begitu tulus dn penuh harapan. Selalu da selalu mendo’akan akan hal-hal yang baik.Tanpa memilh dan memilih anaknya, semua dilakukan sama dan adil.
Tanpa mengharapkan imbalan, tanpa memikirkan apakah anaknya juga selalu mendo’akan keduanya orang tuanya. Subhanalloh, sungguh mulianya orang tua.
     Mungkin pada awalnya akan terfikir apa hubungannya do’a orang tua pada jalan kehidupan kita, toh mereka dimana kita dimana. Tetapi tidak begitu, Saya telah merasakannya sendiri, betapa besar pengaruh do’a orang tua terhadap kita selaku anaknya baik itu dalam karir pekerjaan, rumah tangga, dan pendidikan. Karena orang tua mempunyai rasa yang tidak dimiliki orang lain terutam seorang ibu. Seorang ibu mempunyai cint dan kasih yang sejati. Mengutip teori Alfred Adler dalam Psikologi Kepribadian bahwasannya “Sorang ibu mempunyai ikatan batin yang kuat dan cinta kasih yang sejati, yang tak akan pernah tergantikan oleh siapapun” kepribadian anak dan minat sosialnya sebagian besar dipengaruhi oleh seorang ibu. Sungguh ibu adalah sosok wanita superhero bagi anak-anaknya. Meskipun begitu bukan berarti sosok seorang ayah tidak ada artinya bagi anak, tetapi posisi ayah berada di urutan kedua setelah ibu. Dalam artikel psikologi menyebutkan bahwa ayah sebagai penghangat dalam rumah tangga. Ketika anak merasa tidak nyaman ayah yang akan menghiburnya, ketika rumah merasa mulai sepi karena sang ayah kerja pada saat ayah pulang kerja rumah menjadi hangat kembali, bercanda, mungkin sebagian orang sambil makan malam dan nonton bersama. Dengan begitu sosok ayah sangat dibutuhkan.
Pada awalnya saya tak pernah menyadari bahwa kehidupan saya sampai saat sekarang ini selain karena Allah S.W.T orangtua yang mengambil peran terpenting. Seiring do’a yang terus terucap seiring pula usiaku terus bertambah.

Kisahku :
     Ketika detik-detik berakhirnya bangku SMP, senang dan sedih bercampur bingung menghampiri. Ketika hati kecil ingin melanjutkan sekolah, keadaan yang menolak karen terbentur biaya. Dengan berbekal semangat pantag menyerah disertai dorongan do’a yang tulus dari orang tua, datanglah sepucuk formulir pendaftaran siswa baru Sekolah Menengah Atas yang tak disangka-sangka, yang beralamatkan Kec. Cileunyi Kab. Bandung. Saat itu bingung dan senang bercampur karena sulit untuk dipercaya, “Mungkin semua ini jawaban dari do’a saya dan orangtua saya” pikirku dalam hati. Dari kejadian itulah saya semakin percaya akan adanya mukzizat, kuatnya do’a orangtua, dan mimpi. Seiring berjalannya waktu, kasih sayang dan perhatian orangtua makin terasa betapa pentingnya. Dengan tinggal di tempat orang dengan kultur dan adat yang berbeda. 
Sampai saat ini saya yakin akan kekuatan do’a orangtua yang melebihi segalanya, mengalahkan materi dan segalanya.





Pesan Orang Tua
“Punten mamah mah teu tiasa masihan nanaon, mung do’a”







 Thank for my parents

Rabu, 02 Mei 2012

Menghabiskan Waktu di Pangalengan


 Menghabiskan Waktu di Pangalengan
Oleh: Ifan Gunawan

Hari Senin pagi bagi sebagian orang merupakan hari yang menyibukan, terutama bagi orang-orang yang bekerja di sektor formal seperti pegawai negeri, pekerja kantoran, pegawai bank dan sebagainya. Begitu juga dengan para pelajar, mulai dari siswa Paud sampai Mahasiswa PT, semua aktivitas baru mereka dimulai pada hari Senin. Akibatnya bisa dibayangkan, jalanan yang penuh sesak dengan kendaraan yang beradu cepat dengan waktu, mengejar upacara bendera yang menanti. Berbeda dengan “The Riweuh Genk” filariasis project, anak-anak genk ini menyambut senin pagi kali ini (30/04) dengan hati di sesaki rasa gembira couse mereka bakalan tour ke Pangalengan, daerah Bandung selatan. Setiap hari senin, selama hampir 2 bulan biasanya mereka menerapi para penderita kaki gajah (filariasis),  Senin kali ini mereka gantian menerapi jiwa-jiwa mereka sendiri yang telah lelah dengan kepenatan aktivitas yang menguras tenaga dan fikiran.


OK!. Bagi yang belom kenal anggota “Teh Riweuh Genk” pada kesempatan yang berbahagia ini, gwe bakalan ngasih tau loe-loe semua. Ini die anggotanye jreng!!...jreng!!!..jreng!!!...jreng!!!: Fitiriani“upit” Nur Hidayah (sekre genk) biasanya dia gimana gitoohhh???, Hana Haniefa “teteh” Fauziah aseli from Bojong Soban City nun jauh di pelosok Tasikmalaya sana, Kirani “cikajangers” Anjasmara yang terobsesi bgt bwt ngemulusin jalan2 di Cikajang, Kurnia “mamah/uniee’” Erliani Ibu-Bapak aseli Padang lahir di Cianjur besar di Cianjur juga mesantren di Sumedang tinggal di Padalarang (tapi teu bisaeun basa Padang cuy!!), Lieztya “tullungg!!!” Fitriani orisinil dari Paku Haji suka ngeceng sama sapi biar di kasih susunya, dan sekarang giliran cowok-cowok super ganteng yaitu kita sambut ini dia Ifan “sullivan” Gunawan orang Panjalu lama di Bandung sekarang jadi anak buah pak Haji, kemudian tidak kalah dahsyatnya Lubi “luar biasa” Nurzaman aseli dari Baregbeg (Barcelona maybe) terapis pak Maman yang nyentrik itu. Genk ini bisa terbentuk atas jasa dr. Ambar Sulianti, M.Kes. selaku pimpinan filariasis project yang biasanya para pasien panggil bu dokter dan tidak lupa kepada sang driver sejati pak “Delfi” yang klw malem berubah jadi “Neng Delfi” boo!!! (sorry bcanda).

Cap cus yuk!!!. Yuk!!!

Sudahlah kita lupakan saja peristiwa termos air panas yang susah dapetinnya. Secara resmi run down acara di awali dengan janjian ketemuan jam 06.30 WIB di /4-an Buah Batu. Akan tetapi, berhubung ini hari senin Chibi-chibi (Upit, Igun, Lubi) akhirnya dateng paling telat, sekitar pukul 07.00 WIB, ke buah batu. Kirani udah sms2 & nelpon2 nanya2 posisi. “Muke gile!! busnya penuh banget. Nyampe ane susah keluar. Eh…yang paling gookil tuh si Upit ketinggalan di bus & akhirnya dengan membuang rasa malu di dada gwe ma Ifan teriak-teriak sambil lari manggil Upit. Upit!!!...Upit!!!…Upit!!!. setelah si Upit turun dari bis  aduh…gwe kebelet bgt pingin BAK. Akhirnya ane manuver aja ke wc Pertamina”, ujar Lubi dengan ekspresi wajah OvJ (ya e’!)*.
Kembali ke riweuh group (sengaja diganti biar keliatan terhormat di masyarakat). Jiwa2 narsisist yang dimotori oelh Ifan bangkit ketika melihat kamera digital, langsung aja tanpa di komando mereka foto-foto bak foto model di+ yang motonya udh kyk fotografer sungguhan, makin edun aja nie mereka.
Let’s go to Buah Batu high way gate!!!. Kita janjian dengan si Ibu di gerbang tol Buah Batu. Naek angkot lagi euy!. Tepat pukul 08.30 Terios hitam legam menghapiri wajah2 sumringah yang sejak tadi menunggu, ini dia yang ditunggu-tunggu, Bu Ambar jemput kita.

Sepanjang perjalanan menuju pangalengan mendadak mobil seperti menjadi panggung pertujukan artis2 papan atas, becanda, foto2, tertawa terbahak2, termanyun2, ter-Subhanallah2…sungguh kompleks seperti perum Pinus Regency. Sepanjang perjalanan menuju Pangalengan kita melihat pasar, macet, mobil colt pake tutup (angkutan pedesaan) yang sebenarnya sudah layak dibesi tuakan. Jalan menuju Pangalengan yang menanjak dan berkelok-kelok menjadi serasa sedang mendaki gunung (emang bener). “Naik2 ke puncak gunung tinggi sekali….”, spontan anak2 menyanyikan lagu naik2 kepuncak gunung. Nostalgia masa kecil. Ifan, sepanjang perjalanan dengan omongan genitnya terus menghayal. ”Mah!! nanti kita bangun rumah ya di sana, kayaknya enak deh”, kata Ifan. “Iya bener, ntar kamu yg mati duluan”, jawab Nia. Hahhahahhahahahha….!!! Tertawalah sebelum tertawa itu dilarang.

Memasuki daerah Pangalengan kita disuguhi panorama alam yang begitu indah, areal pertanian yang dipenuhi sayur-mayur, petani yang berkativitas di ladang, kabut yang mulai menipis karena terpaan sang mentari. Setelah cukup lama disuguhi pemandangan lahan pertanian akhirnya rombongan sampai ke perkebunan teh, tepatnya perkebunan milik PTPN VIII daerah Malabar. Dengan antusias seluruh anggota rombongan yang berjumalah 9 orang turun dari mobil, mereka berfoto bersama, single, double, triple, qudraple etc. dengan gaya masing2 yang gookil2. “Indah banget”, ungkap Kurnia. Mulailah memasuki areal perkebunan teh yang sangat luas, sejauh mata memandang yang terlihat hanya hamparan kebun teh yang hijau seperti permadani terhampar. Sayangnya jalan yang dilalui bisa dibilang rusak parah, goyang kiri goyang kanan, loncat ke atas dikit sampai ke jedot atap mobil. Ketika melihat tempat yang cocok untuk berfoto, rombongan lansung berhenti. Kejadian yang paling lucu adalah ketika berfoto di atas batu besar, waktu itu seluruh anggota rombongan berteriak antusias karena melihat pemandangan. Akan tetapi, ada penduduk lokal yang memarahi. “Woy…ulah gogorowokan!!!!”. Akhirnya rombongan lari tunggang langgang menuju ke mobil, setelah itu si penduduk lokal memperigatkan, “Kade ulah caliwera, bisi aya nanaon”. Maklum di daerah seperti ini mitos2 tentang makhluk2 halus masih kuat. Salahsatu hal yang sangat sulit dilupakan adalah keramahan penduduk disana, mereka selalu tersenyum dan melambaikan tangan ketika ada orang asing lewat.

Ketika melewati pabrik pengolahan teh milik PT. London Sumatra Indonesia, rombongan bertemu dengan fanbike mahasiswa Fakultas Olah Raga UPI, kebetulan dulu mahasiswa2 itu pernah di ajar oleh bu Ambar. Lalu rombongan turun dari mobil untuk sekedar bertegur sapa & foto bareng. Rombongan diberi kenang2an berupa stiker. 

Hujan rintik-rintik mulai turun, menjadikan jalanan rusak seperti kubangan kerbau. Sekitar pukul 11.30 WIB rombongan sampai di hulu sungai Citarum atau lebih dikenal dengan nama situ Cisanti, terletak persis di kaki gunung Wayang. Rencananya rombongan akan langsung menuju mata air sungai Citarum akan tetapi baru mencapai DAM ternyata hujan turun begitu deras sehingga rombongan memutuskan untuk kembali ke base camp. Emang dasar sifat anak muda hujan bukan berteduh malah terus foto2. Sambil menunggu hujan reda rombongan makan siang dengan segelas pop mie. Ada kejadian lucu yang terjadi ketika si Lubi akan mendudukui tumpukan tikar, gak taunya di dalam tikar itu ada orang lagi tidur, ke injek deh. “Astagfirullahaladzim, punten kang teu ka haja”, berapologi.

Setelah makan siang dan shalat duhur ternyata hujan reda. “Makanya harus shalat dulu. Tu kan hujannya reda”, ucap bu Ambar. Dengan antusias anak-anak menuju mata air kecuali pak Delfi. Dia sibuk ngedeketin si bapak tukang warung (kayaknya mau nanyain punya anak pera1 gk?). Infrastruktur jalan yang jelek menuju mata air, hanya berlapiskan rumput di selingi kubangan kecil menjadikan pejalan kaki memilih berjalan di tembok median selokan. Akhirnya sampai juga di mata air. Di pintu masuk ke mata air terlihat ada seorang penjaga, mungkin lebih tepatnya kuncen tempat ini karena di areal mata air terdapat kuburan keramat mantan pejabat kerajaan Padjajaran tempoe doeloe yang sering di kunjungi orang-orang untuk berziarah. Di dekat makam itu terdapat mata air, lebih tepatnya 2 buah lubang yang memancarkan air. “Wuih jernih banget airnya”, kata Listia. “Pingin nyebur nih”, kata Kiran (hoax). Menurut sang penjaga, ini merupakan salahsatu bentuk kekuasaan Allah karena tidak ada ikan yang berani masuk ke mata air. “Tingali eta kai anu ngangkang tapi teu ti teuleum padahal teu aya cuakna”, terang si penjaga. Setelah puas melihat mata air rombongan memutuskan untuk melanjutakan perjalanan.
Sayonara Cisanti!!!

Rencananya selepas dari situ Cisanti rombongan akan melanjutkan perjalanan ke pemandian air panas. Akan tetapi melihat medan yang berat dan kondisi alam yang tidak mendukung akhirnya rombongan memutuskan untuk langsung pulang saja ke Bandung lewat jalur Ciparay. Memang sih sedikit kecewa tapi gak papalah. “Hanas urang ges mawa kolor heg teh teu jadi”, gerutu Ifan. Sepanjang perjalanan pulang kali ini kita disuguhi pemandangan alam yang begitu indah, petani yang sedang mengangkut sayuran, joget nyuci wortel (mau nyaingin trio macan dia), dll. Dalam perjalanan rombongan menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh khas pangalengan yaitu permen susu dan kerupuk susu. “Teu boga duit euy, kamari kakara meuli buku, isukan urg nyieun pabriknalah”, ucap Lubi.

Min haisu la yah tasib. Ketika melewati daerah pacet semua mata tertuju ke arah kanan jalan ternyata eh...ternyata. Ada apakah gerangan?, kolam renang bro!. Hore!!!! Akhirnya kita jadi renang. Dengan semangat 45 rombongan menuju kolam renang. Beberapa anggota pada awalnya bimbang masuk air. Akan tetapi setelah melihat salah seorang anggota loncat ke air dan kesana kemari berputar2 seperti ikan gabus, akhirnya ikut renang juga deh. Kecuali Fitri & bu Ambar mereka tidak ikut karena beberapa alasan logis. Walaupun air begitu dingin dan suhu udara juga dingin akan tetapi itu tidak menjadi halangan untuk mengeksplorasi setiap inci dari kolam renang. Sorodottttttttttttttttttt!!!!!!!!!!!......jbur!!!!!!, silahkan bayangkan sendiri kejadian apa itu.
Tingkah polah childish dikeluarkan mulai dari berteriak-teriak, omongan-omongan manja dan candaan-candaan gokil. Dan yang cukup fenomenal adalah adanya imitasi trio macam mengaum di bawah pancuran. Aum!!!!!!!!

Setelah berenang selama hamper 2 jam dan badan udah pada kedinginan rombongan siap melanjutkan perjalanan pulang. Dalam perjalanan menuruni bukit, kabut mulai turun memperpendek jarak pandang, yang terlihat di sekeliling hanyalah kabut putih. Anak-anak begitu kelelahan tapi emang gak ada matinya nie orang2, udah cape begini masih aja bisa ketawa-ketiwi. “Ha…ha…si mamah tepar”, duka saha eta nu ngomong. Yang paling keliatan low bet banget emang Nia terapis bu Nia.

Capeeeeee……!!!!!!!. Jam menunjukan pukul 19.30 WIB itu artinya mobil telah sampai di Borma Kircon. Dengan tubuh lemah, letih, lesu, lunglai dan pegal-pegal anak-anak berjalan menyusuri trotoar menuju kosannya masing2 kecuali chibi-chibi, mereka harus naik angkot lagi. Selamat istirahat semuanya semoga semua kejadian hari ini ada hikamahya.

Begitulah sepenggal cerita oleh-oleh dari Pangalengan. Masih banyak kejadian yang tidak bisa di ungkapkan dalam tulisan ini dan akan menjadi memory abadi di benak masing-masing pelaku cerita. Mohon maaf apabila ada konten yang sekiranya menurut anda tidak perlu dimuat itu murni kesalahan anda yang tidak memberikan masukan kepada penulis. Silahkan berikan masukan anda lewat komentar di bawah ini.
Keep spirit!!!!

Sebagian fofo-foto:


BERAWAL DARI SEBUAH MUSIBAH, MENJADI SEORANG PENGEMIS DEMI MENGHIDUPI KELUARGA


BERAWAL DARI SEBUAH MUSIBAH, MENJADI SEORANG PENGEMIS DEMI MENGHIDUPI KELUARGA

            Dulu nasib seorang bapak paruh baya kelahiran Sukabumi 57 tahun lalu yang sudah memiliki 6 orang anak ini tidak separah sekarang ini. Bapak dengan nama Hendrik Andrean yang biasa dipanggil Pak Hendrik sudah menjalani aktivitas sebagai seorang pengemis sejak tahun 2000 silam. Karena sang istri tercinta merantau ke negri orang, terpaksa beban keluarga beliau tanggung sendiri. Dari mulai memasak, mencuci, mengurus rumah, bahkan mempersiapkan semua peralatan sekolah.
            Memang kasih sayang orang itu sangat tulus tanpa mengharapkan timbal balik. Kasih sayang tak akan pernah tergantikan oleh apapun, dimanapun, bahkan sampai akhir hayatpun yang namanya kasih sayang orang tua tak akan pernah putus. Apapun akan mereka lakukan untuk kebahagiaan dan kesuksesan anak-anaknya. Begitu pula yang dialami pak Hendrik, demi biaya hidup anak-anaknya beliau rela mengemis di perempatan Kiara Condong dari pukul 06.00 pagi hingga petang. Dengan penghasilan Rp. 25.000 – Rp. 30.000/ harinya. Dulunya beliau seorang supir yang berpenghasilan lumayan, tetapi semenjak kecelakaan yang melibatkan mobil yang dikendarainya masuk jurang. Sejak itu beliau mempunyai kekurangan pada kakinya, yang sampai sekarang aktivitasnya ditemani sebuah tongkat yang bisa memapahnya.
            Keterbatasan ternyata tak membuat semangat hidup beliau berkurang, karena beliau sadar ada anak-anaknya membutuhkan biaya, kasih sayang, dan perhatian darinya. Apalagi ketiga anak bapak yang masih duduk di bangku sekolah masih membutuhkan lebih perhatian dan tanggungjawab dari sosok seorang ayah. Keingina beliau tidaklah muluk-muluk. “bapak mah teu hoyong nanaon eneng, aa. Bapak mah ngan hoyong ningali anak-anak bapak bisa terus sakola nu luhur, beh jadi jelema teu jiga bapak” jawab beliau sambil tersenyum simpuh, ketika kami tanya.
            Motivasi beliau menjadi seorang pengemis sangatlah mulia, disamping karena keterbatasan fisik beliau mempunyai cita-cita lain yakni, ingin melihat anak-anak nya sukses dan bisa menitipkan masa tua beliau pada mereka. Selagi beliau mampu beliau tidak mau menjadi beban anak-anaknya.
            Sungguh hebat beliau ini, tetap optimis ditengah keadaan yang serba kekurangan. “oh, teu saeutik ge neng, puguh ku kaayaan kieu bapak tiasa sukuran kanu kawasa. Ieu cocobi kanggo bapak panginten neng”. Jawaban beliau dengan tegasnya, ketika kami bertanya “ bapak pernah merasa Tuhan tidak adil dengan keadaan bapak seperti ini ?”. Sikap optimis dan kesabaran beliau perlu kita renungi dan jadikan sebuah motivasi bagi kita sebagai insan akademi.











Bandung, 5 Desember 2011
1.      Pewawancara         :  a. Ipan Gunawan
                                                                                                   b. Kurnia Erliani
2.      Nara Sumber          : Hendrik Andrea (Pengemis)