Selasa, 15 Mei 2012

AQIDAH TAUHID SEBAGAI PRINSIP SAINS




       
AQIDAH TAUHID SEBAGAI PRINSIP SAINS
(Sejarah, metapisika, ilmu pengetahuan, Tata-tata sosial, dll)

1. PRINSIP SEJARAH
Manusia diciptakan sangat unik, dikatakan unik karena manusia sebagai subjek dan objek kajian. Tauhid menempatkan manusia pada suatu etika perbuatan atau melakukan sesuatu, yaitu beretika dinamis keberhargaan manusia sebagai pelaku moral diukur dengan tingkat keberhasilan yang dicapainya dalam mngisi aliran ruang dan waktu.
Sebenarnyalah, islam menuntut pemenuhan tuntutan-tuntutan etika niat sebagai persarata, islam menuntut pemenuhan tuntutan-tuntutan etika niat sebagai persyaratan awal bagi pemenuhan tuntutan etika tindakan.
2.  PRINSIP PENGETAHUAN
            Iman bukanlah semata-mata kategori etika. Sesungguhnya pertama-tama ia adalah suatu kategori kognitif, yang artinya ia berhubungan pengetahuan, dengan kebenaran, proposisi-proposisinya.
            Sebagai prinsip pengetahuan tauhid adalah pengakuan bahwa Allah S.W.T yakni kebenaran (al- haqq) itu ada dan bahwa Dia itu esa. Ini mengimplikasikan bahwa semua keberatan semua keraguan dapat diacukan kepada-Nya, dan bahwa pernyataan dapat di uji. Tauhid adalah pengakuan bahwa kebenaran bisa diketahui.
            Sebagai prinsip-prinsip metodologi, tauhid dari 3 prinsip:
a.       Penolakan terhadap segala sesuatu yang tidak berkaitan dengan realitas.
b.      Penolakan kontradiksi-kontradiksi hakiki.
c.       Keterbukaan bagi bukti yang baru atau bertentangan.
3. PRINSIP METAFISIKA
            Dalam islam, alam adalah ciptaan dan anugrah sebagai ciptaan ia bersipat teologis, sempurna dan teratur. Sebagai anugrah ia merupakan kebaikan yang tak mengandung dosa yang disediakan untuk manusia. Tujuannya adalah memungkinkan manusia melakukan kebaikan dan mencapai kebahagiaan.
            Allah S.W.T adalah pelaku yang aktif dalam segala apa yang terjadi. Dialah satu-satunya pelaku hakiki dari segala peristiwa. Maka dengan sendirinya, tauhid berarti penghapusan terhadap setiap kekuatan yang bekerja dalam alam disamping tuhan yang prakarsa kekal-Nya adalah hukum-hukum alam yang abadi. Ini berarti mengingkari setiap prakarsa dalam alam setiap kekuatan selain tuhan seperti sihir, ruh, dll.
4. PRINSIP TATA SOSIAL
            Dalam dimensi sosialnya jelas islam paling unik dan sempurna diantara agama yang ada dan dikenal dunia. Islam menyebut manusia khalifah, sebab melakukan semua itu dengan baik bersosialisasi, pemimpin, dan memenuhi kehendak tuhan.
            Untuk menjalankan semua itu islam membangun teiri sosialnya. Tata sosial, demikian menurut islam. Semua itu perlu, jika tujuan tersebut ingin tercapai. Dengan anggapan bahwa hubungan antar manusia adalah alamiah, islam juga menyatakan bahwa hubungan tersebut adalah satu kemustian. Tata sosial sejahtera, ummah (kesatuan), dan Daral-salam (rumah kedamaian) merupakan cita-cita tertinggi islam dalam lingkup ruang dan waktu.






Referensi:
Ismail Raji. 1982. Tauhid. Bandung: PUSTAKA

0 komentar:

Poskan Komentar